Senin, 06 Juni 2011

Mu'alaf di Tanah Landak, West Borneo


ANTOLOGI >>> Kumpulan cerita
Oleh      : Sahri Amarta
Tema     : Menebar benih keadilan di tanah landak
Judul     :  Mu’alaf di Tanah Landak
Napak Tilas
Kami adalah sekumpulan orang-orang yang mencari keadilan di negeri ini. Betapapun perihnya kaki melangkah membuat waktu yang tersisa begitu berarti. Napak tilas keberadaan para Mu’alaf di Pedalaman Kalimantan Barat menjadi sebuah harapan dan mimpi dalam kondisi ketidakpastian ini.
Hidup ini seperti sebuah rangkaian cerita, hanya saja masalahnya adalah bagaimana kita bisa menjadikan alur cerita kehidupan kita ini menjadi lebih bermanfaat dan bermakna bagi orang lain dan kita. Lantas, bagaimana perjuangan mereka dalam mewujudkan cita-cita dan mimpi yang seringkali terlintas di dalam pikiran.
Rangkaian cerita mereka berawal dari sebuah perjalanan singkat kami di daerah hulu Kalimantan Barat pada pertengahan tahun 2008 berlanjut hingga 2010. Program survey Mu’alaf yang membuat kami menata ulang rencana program pendataan menjadi program pembinaan.
Program ini berjalan ketika kami bekerja sama dengan salah satu Lembaga Amil Zakat di Kalimantan Barat  untuk menebar hewan kurban di daerah Mu’alaf. Pada saat itu kami mengambil momentum Hari Raya Idul Adha umat Islam. Indahnya berbagi dan silaturrahim bersama para mu’alaf. Pada saat itu kami masih aktif pada salah satu Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda (OKP) / Gerakan Mahasiswa di Kalimantan Barat.
Mengharapkan anggaran dari Kementerian Agama (Pemerintah) adalah sesuatu hal yang membuang-buang waktu dan omong kosong belaka. Kami rasa gerakan mahasiswa dan LSM lebih luas dan jelas ruang geraknya dibanding Pemerintah yang tidak jelas kepentingannya apakah berpihak terhadap rakyat atau tidak.
Hal yang sama berbau rasa kecewa juga disampaikan oleh beberapa mu’alaf kepada pemerintah ketika kami silaturrahim kerumah mereka. Keluhan bercampur semangat mereka utarakan kepada kami tentang perilaku pemerintah yang kian kurang memperhatikan pembinaan para mu’alaf, ungkap salah satu warga di daerah Landak.
Tanah Landak
Sebuah daerah yang bernama Kabupaten Landak atau Entikong misalkan (yang baru sempat kami kunjungi), meninggalkan banyak cerita tentang perjalanan para mu’alaf yang berjuang mencari keadilan, mempertahankan aqidah serta menciptakan sarana-sarana pembinaan buat komunitas mereka yang cenderung minoritas. Begitu menginspirasi, perjalanan kami.
Seorang ibu, bernama Lutfi yang akrab ketika saling berbagi cerita membuat kami semakin dekat dengannya. Seorang mantan Biarawati sekaligus menjadi misionaris bersama suaminya yang juga pastor di daerahnya. Beliau mendirikan sebuah Pesantren (Ma’had) Mu’alaf di daerah Sidas, Kabupaten Landak bersama suaminya yang lebih dahulu meninggalkannya (wafat).
Pesan suaminya adalah agar Ma’had ini dijaga dan tetap dipertahankan untuk membina generasi muda mu’alaf secara aqidah dan menolak pemurtadan kembali di daerah mereka.  Sebuah perjuangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Pada awal pendirian Ma’had mereka mengalami banyak cobaan dan intimidasi dari berbagai oknum misionaris didaerah sekitarnya. Salah satunya adalah kran tempat wudhu surau di ma’had mu’alaf seringkali dirusak oleh oknum tertentu. Hampir setiapkali diperbaiki selalu saja dirusak, namun tidak membuat ibu Lutfi dan suami merasa takut bahkan mereka semakin bersemangat untuk tetap istiqomah melakukan pembinaan kepada para mu’alaf.
Ibu Lutfi juga memperdalam ilmu agamanya bersama seorang Kyai di sebuah pesantren besar di Jawa Timur. Disana ia belajar tentang pengetahuan islam secara syari’at, dan manajemen pengelolaan pesantren.
Sepulang dari Jawa Timur, beliau semakin yakin bahwa islam adalah agama rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ia juga yakin bahwa mempertahankan aqidah di daerah tempat tinggalnya merupakan Jihad di jalan Allah yang tak kenal henti.
Kepada kami, beliau mencurahkan hati (curhat) dan bercerita tentang perjuangan di Tanah Landak. Setiap waktu yang dilewati terus memotivasinya untuk menyelamatkan aqidah para generasi muda di ma’had tersebut.
Menurut penuturan beberapa Mu’alaf, jumlah penduduk yang masuk Islam relatif banyak namun yang kembali lagi menjadi murtad akibat misionaris juga tidak kalah banyaknya. Ini menjadi catatan penting agar kedepan lebih banyak lagi sarana-sarana pembinaan seperti ma’had (pesantren) Mu’alaf dipertahankan dan didirikan dibeberapa tempat yang rentan adanya misionaris. Sehingga hal ini dapat meminimalisir terjadinya pemurtadan kembali.
Seperti kasus-kasus sebelumnya, anggaran pemerintah dalam program penanggulangannya sangat minim karena seringkali di korupsi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Padahal hal ini bukan saja sekedar mengucurkan sebuah anggaran semata, namun lebih kepada nilai dakwah yang dapat berdampak positif serta ber‘amal jariyyah. Allahu’alam
Di sisi yang lain berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan dengan salah satu pemerhati mu’alaf bapak Rizki yang berdomisili di Kota Ngabang mengatakan bahwa tidak sedikit masyarakat yang masuk agama islam akan tetapi tidak sedikit pula yang kembali menjadi Murtad (keluar dari agama islam). Dikarenakan masalah materiil dan misionaris yang kian gencar didaerah tersebut.
Belum lagi munculnya “Mu’alaf Gadungan” ketika ada pembagian kurban mereka meng-klaim bahwa mereka adalah seorang mu’alaf namun setelah pembagian kurban terdapat temuan ternyata mereka masih menganut agama non-Islam. Dan ini jumlahnya tidak sedikit, sangat disayangkan.
Tetapi ada juga kisah para mu’alaf yang ingin melaksanakan shalat Ied serta mendapatkan daging kurban dengan jalan kaki berkilo-kilo jaraknya, karena diketahui ternyata rumahnya di dalam hutan katakanlah pedalaman, penuturan dari seorang teman yang juga pernah ke daerah Landak.
Indahnya Berbagi
Begitulah serangkaian cerita kami di Tanah Landak. Ada rasa haru dan semangat yang menggebu dalam setiap perjalanan. Mereka yang disana butuh pembinaan selayaknya umat islam lain yang berada di kota. Mereka juga tidak kalah kerasnya berjuang mempertahankan aqidah ditanah kelahiran mereka. Daging kurban yang diberikan setiap tahunnya adalah sesuatu yang sangat mereka syukuri.
Betaapun tidak mereka menyambut dengan aroma kebaikan ditengah kondisi yang pelik jika kita merasakannya. Mereka adalah bagian daripada kita. Kita atau mereka memiliki hak yang sama untuk mendapat sebuah keadilan.
 Allah swt senantiasa memberikan beban sesuai dengan kemampuan hambanya. Kami yakin bahwa keadilan di negeri ini akan segera bangkit dari segala arah, dimana masih ada sebagian orang yang masih tetap  beramal dalam bentuk apa saja tanpa pamrih untuk sekedar meminta balasan.
Keadan kita disini dan mereka disana sebenarnya tidak jauh berbeda. Ini semua adalah serangkaian cerita yang sayang untuk dilewatkan. Setiap ada kebaikan di suatu daerah, selalu ada saja kezhaliman yang menghadangnya. Disinilah kita diuji untuk tetap istiqomah dan tetap menjaga diri kita, saudara kita maupun orang lain yang tidak kita kenal sekalipun.
Semoga do’a dan ikhtiar kita semua tentang cerita keadilan ini adalah sebuah fenomane yang menarik untuk terus dijadikan sebuah alur cerita unik.


Penulis adalah Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Kalimantan Barat periode 2008/2010 dan Alumni CEFIL Basic Level 3 SATU NAMA, JOGJA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar